Skip to content

Insight Hutan, DAS dan Masyarakat

Perspektif kehutanan, pengelolaan DAS, dan pemberdayaan masyarakat untuk lanskap berkelanjutan.

  • Beranda
  • Tentang Saya
  • Kontak
  • opini
  • Seputar Kehutanan
  • Pengelolaan DAS
  • Pemberdayaan Masyarakat
  • Korsa, Kuasa dan Nurani
  • Praktik & Inovasi
  • Alpukat Siger
  • Home
  • Pemberdayaan Masyarakat
  • Ketika Hutan Menjadi Harapan: Kisah Perhutanan Sosial di Pesawaran
foto maryadi 1

Ketika Hutan Menjadi Harapan: Kisah Perhutanan Sosial di Pesawaran

Posted on July 19, 2026July 19, 2026 By ashadimaryanto No Comments on Ketika Hutan Menjadi Harapan: Kisah Perhutanan Sosial di Pesawaran
Pemberdayaan Masyarakat

Ada sebuah pertanyaan yang sering saya renungkan setiap kali mendampingi masyarakat di sekitar kawasan hutan: benarkah Perhutanan Sosial mampu mengubah kehidupan masyarakat, ataukah ia hanya akan berhenti sebagai kebijakan pemberian akses kelola?

Jawaban atas pertanyaan itu tidak saya temukan di ruang seminar ataupun laporan kegiatan. Saya menemukannya di lapangan, ketika bertemu dengan Maryadi, Saeful, Leonardo, dan banyak tokoh lain di Kabupaten Pesawaran. Mereka bukan pejabat, bukan akademisi, dan bukan tokoh nasional. Mereka adalah petani, penggerak kelompok, dan anak-anak muda desa yang memilih tetap tinggal di kampung halamannya untuk membangun masa depan dari hutan yang mereka kelola.

Beberapa tahun lalu, kehidupan masyarakat di sekitar kawasan hutan di Pesawaran menghadapi persoalan yang hampir sama dengan banyak daerah lain di Indonesia. Konflik tenurial, keterbatasan akses usaha, lemahnya kelembagaan, rendahnya nilai tambah hasil hutan, hingga anggapan bahwa hutan adalah wilayah yang penuh larangan masih menjadi kenyataan yang dihadapi masyarakat.

Namun perlahan, cara pandang itu mulai berubah.

Di KPS Pujo Makmur, Maryadi bersama rekan-rekannya tidak hanya mengelola lahan. Mereka sedang mengubah cara pandang masyarakat terhadap hutan. Melalui sistem agroforestri, mereka membuktikan bahwa menjaga tegakan pohon bukan berarti mengurangi penghidupan masyarakat. Justru sebaliknya, hutan yang tetap lestari mampu menjadi sumber kehidupan yang berkelanjutan. Mereka belajar bahwa menjaga pohon sama pentingnya dengan memanen hasilnya.

Di tempat lain, Saeful bersama Gapoktanhut Pala Lestari menghadapi tantangan yang berbeda. Potensi pala sebenarnya cukup besar, tetapi selama bertahun-tahun sebagian besar hasil panen hanya dijual dalam bentuk bahan mentah sehingga nilai tambah lebih banyak dinikmati oleh pelaku usaha di luar desa. Kesadaran itulah yang mendorong kelompok mulai berpikir melampaui kegiatan budidaya. Bagi mereka, keberhasilan tidak lagi hanya diukur dari banyaknya hasil panen, tetapi dari kemampuan menghadirkan nilai tambah yang tetap tinggal di desa.

Sementara itu, hadirnya anak-anak muda seperti Leonardo membawa optimisme baru. Ia mewakili generasi yang tidak lagi memandang desa sebagai tempat yang harus ditinggalkan, melainkan sebagai ruang untuk berkarya. Teknologi digital, pemasaran, jejaring usaha, hingga semangat kewirausahaan mulai diperkenalkan ke dalam pengelolaan kelompok. Di tangan generasi muda seperti inilah saya melihat masa depan Perhutanan Sosial sedang dibangun.

Maryadi, Saeful, Leonardo, dan banyak tokoh lainnya memiliki cerita yang berbeda. Namun mereka dipersatukan oleh satu keyakinan yang sama: masa depan desa dapat dibangun tanpa harus meninggalkan hutan. Inilah perubahan paling penting yang saya lihat di Pesawaran.

Perhutanan Sosial tidak lagi dipahami sekadar sebagai pemberian akses kelola kawasan hutan. Ia mulai berkembang menjadi ruang belajar bersama untuk memperkuat kelembagaan, membangun usaha, menumbuhkan semangat gotong royong, serta menghadirkan kesejahteraan yang lahir dari pengelolaan hutan secara lestari.

Perubahan tersebut tentu tidak lahir dengan sendirinya. Ia merupakan hasil kolaborasi yang panjang antara masyarakat, Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH), Kementerian Kehutanan, pemerintah daerah, perguruan tinggi, para pendamping, dunia usaha, serta berbagai pihak yang memiliki kepedulian terhadap pembangunan masyarakat sekitar hutan. Masing-masing memiliki peran yang berbeda, tetapi semuanya bergerak menuju tujuan yang sama: menjadikan hutan sebagai sumber kesejahteraan tanpa kehilangan fungsi ekologisnya.

Perjalanan itu tentu belum selesai.

Kapasitas kelembagaan masih perlu diperkuat. Hilirisasi hasil agroforestri masih harus dikembangkan. Akses pembiayaan perlu diperluas. Pemanfaatan teknologi harus terus didorong. Regenerasi pelaku usaha juga menjadi tantangan yang tidak ringan. Namun justru karena masih berproses, Pesawaran menjadi tempat yang menarik untuk dipelajari.

Dari pengalaman di Pesawaran saya belajar bahwa keberhasilan Perhutanan Sosial sesungguhnya tidak dimulai ketika izin diterbitkan. Keberhasilan dimulai ketika masyarakat mulai percaya kepada kelembagaannya sendiri, bekerja secara kolektif, dan melihat hutan sebagai aset yang harus dijaga karena dari sanalah masa depan mereka dibangun.

Pengalaman tersebut memberikan pelajaran yang berharga bagi pengembangan Perhutanan Sosial di Indonesia. Keberhasilan tidak cukup diukur dari luas kawasan yang memperoleh persetujuan, banyaknya Kelompok Perhutanan Sosial yang terbentuk, ataupun jumlah program yang dilaksanakan. Keberhasilan sesungguhnya terlihat ketika masyarakat mulai merasakan manfaat nyata, kelembagaan semakin mandiri, generasi muda memilih kembali membangun desanya, dan hutan tetap terjaga sebagai penyangga kehidupan.

Bagi saya, inilah makna Perhutanan Sosial yang sesungguhnya. Ia bukan hanya berbicara tentang hutan, tetapi tentang manusia. Bukan hanya berbicara tentang izin, tetapi tentang kepercayaan. Bukan hanya berbicara tentang program, tetapi tentang perubahan cara pandang dan perubahan kehidupan.

Saya percaya bahwa apa yang sedang tumbuh di Pesawaran hari ini bukanlah akhir dari sebuah perjalanan, melainkan awal dari perubahan yang lebih besar. Ketika Indonesia memasuki usia satu abad kemerdekaannya pada tahun 2045, saya berharap akan lahir ribuan Maryadi, Saeful, Leonardo, dan tokoh-tokoh muda lainnya di seluruh pelosok negeri. Mereka bukan hanya menjadi penerima manfaat Perhutanan Sosial, tetapi menjadi penggerak ekonomi desa, penjaga bentang alam, sekaligus pemimpin perubahan di tingkat tapak.

Jika harapan itu dapat diwujudkan, maka Perhutanan Sosial akan dikenang bukan semata sebagai kebijakan pemberian akses kelola kawasan hutan. Ia akan menjadi fondasi lahirnya desa-desa yang mandiri, masyarakat yang sejahtera, dan hutan Indonesia yang tetap lestari.

Dan mungkin, ketika kita menoleh kembali pada tahun 2045, kita akan menyadari bahwa perubahan besar itu ternyata tidak selalu dimulai dari kota-kota besar atau ruang-ruang rapat. Perubahan itu berawal dari langkah-langkah kecil yang dilakukan oleh orang-orang biasa di tempat-tempat seperti Pesawaran—orang-orang yang memilih menjaga hutan karena mereka percaya bahwa di sanalah masa depan keluarganya, desanya, dan bangsanya sedang dititipkan.

Post navigation

❮ Previous Post: Jabatan Berakhir, Integritas Tidak Pernah Pensiun
Next Post: Perhutanan Sosial: Dari Politik Akses Menuju Politik Ekologi ❯

You may also like

penyuluh 1
Pemberdayaan Masyarakat
Penyuluhan Kehutanan sebagai Proses Perubahan Perilaku
June 12, 2026
FB IMG 1698454925114
Pemberdayaan Masyarakat
Perhutanan Sosial: Dari Politik Akses Menuju Politik Ekologi
July 24, 2026
foto tanaman di tahalo
Pemberdayaan Masyarakat
Rehabilitasi Hutan yang Menghidupi: Refleksi dari Pematang Tahalo, Gunung Balak
June 17, 2026
foto bersama wamenham e1782923959880
Pemberdayaan Masyarakat
Pemenuhan Kebutuhan Dasar sebagai Fondasi Hak Asasi Manusia
July 1, 2026

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Recent Posts

  • FB IMG 1698454925114
    Perhutanan Sosial: Dari Politik Akses Menuju Politik Ekologi
  • foto maryadi 1
    Ketika Hutan Menjadi Harapan: Kisah Perhutanan Sosial di Pesawaran
  • foto web artikel amanah
    Jabatan Berakhir, Integritas Tidak Pernah Pensiun
  • foto bersama wamenham e1782923959880
    Pemenuhan Kebutuhan Dasar sebagai Fondasi Hak Asasi Manusia
  • foto kopi dikebun
    Kopi Warisan di Batas Kebun: Ketika Sebatang Pohon Menyimpan Sejarah dan Secangkir Kopi Menyimpan Cerita

Recent Comments

No comments to show.

Top Posts

  1. Rank number 1foto web artikel amanah
    Jabatan Berakhir, Integritas Tidak Pernah Pensiun
    +11Like
  2. Rank number 2foto kopi dikebun
    Kopi Warisan di Batas Kebun: Ketika Sebatang Pohon Menyimpan Sejarah dan Secangkir…
    +6Like
  3. Rank number 3foto maryadi 1
    Ketika Hutan Menjadi Harapan: Kisah Perhutanan Sosial di Pesawaran
    +6Like
  4. Rank number 4FB IMG 1698454925114
    Perhutanan Sosial: Dari Politik Akses Menuju Politik Ekologi
    +6Like
  5. Rank number 5foto bersama wamenham e1782923959880
    Pemenuhan Kebutuhan Dasar sebagai Fondasi Hak Asasi Manusia
    +4Like
  • Beranda
  • Tentang Saya
  • Kontak
  • opini
  • Seputar Kehutanan
  • Pengelolaan DAS
  • Pemberdayaan Masyarakat
  • Korsa, Kuasa dan Nurani
  • Praktik & Inovasi
  • Alpukat Siger

Copyright © 2026 Insight Hutan, DAS dan Masyarakat.

Theme: Oceanly Green by ScriptsTown