Rimbawan dikenal sebagai korps yang memiliki jiwa korsa kuat. Sebuah persaudaraan yang lahir bukan semata karena kesamaan tempat bekerja, melainkan karena kesamaan panggilan untuk menjaga hutan, tanah, air, dan kehidupan yang bergantung padanya. Di tengah luasnya bentang nusantara, identitas sebagai rimbawan pernah menjadi perekat yang melampaui asal daerah, suku, bahkan almamater.
Namun perjalanan waktu menghadirkan ironi. Di dalam tubuh yang sama tumbuh berbagai identitas yang semestinya saling memperkaya, tetapi dalam beberapa keadaan justru menjadi sekat yang memisahkan. Loyalitas terhadap kelompok, jaringan, dan almamater terkadang tampil lebih kuat daripada loyalitas terhadap profesi itu sendiri.
Fenomena ini tidak hadir dalam sekejap. Ia tumbuh perlahan, nyaris tak terasa, hingga menjadi bagian dari dinamika yang dianggap biasa. Ketika afiliasi lebih dihargai daripada kompetensi, ketika kedekatan lebih menentukan daripada pengabdian, dan ketika sesama rimbawan saling berhadapan karena perbedaan identitas kelompok, maka lahirlah sebuah paradoks yang menyedihkan: korsa yang mencabik korsa.
Tulisan ini bukanlah gugatan terhadap almamater, bukan pula penolakan terhadap kebanggaan terhadap asal-usul. Sebaliknya, tulisan ini adalah sebuah refleksi tentang pentingnya menempatkan identitas profesi di atas segala identitas lainnya. Sebab pada akhirnya, hutan tidak pernah bertanya dari kampus mana seorang rimbawan berasal. Hutan hanya membutuhkan rimbawan yang bekerja dengan integritas, kompetensi, dan semangat pengabdian yang sama.
Di tengah berbagai tantangan kehutanan yang semakin kompleks, mungkin sudah saatnya kita kembali bertanya: apakah korsa masih menjadi jembatan yang mempersatukan, atau tanpa sadar telah berubah menjadi tembok yang memisahkan?
